Press "Enter" to skip to content

Sejarah batik, indonesia  

Ketika berbicara tentang batik, kita berbicara tentang grosir batik jogja salah satu bentuk kesenian tradisional di Indonesia yang telah ada selama berabad-abad. Indonesia pada dasarnya adalah negara yang berhasil mengembangkan seni dengan menciptakan berbagai jenis pola, desain, dan varian. Ada banyak jenis batik yang berbeda berdasarkan metode penciptaan dan berdasarkan produsen baju batik di jogja daerah yang diciptakannya. Sejarah batik telah mengalami banyak perubahan dan juga perjalanan panjang yang ada.

Kata batik berasal dari kata ambatik, yang berarti kain dengan titik mungil dan kecil. Tapi kata itu mungkin juga berasal dari tritik, sebuah kata bahasa Jawa, yang berarti proses sekarat yang menolak, di mana ia harus terikat pada area tertentu. Batik awalnya tidak eksklusif hanya untuk wilayah Indonesia. Keberadaannya bisa ditelusuri kembali sekitar 1.500 tahun yang lalu dari sampel yang ditemukan di Timur Tengah, Mesir, China, India, Jepang, dan bahkan Afrika Barat. Jika dilihat dari pola tekstil yang ada pada patung batu di candi Jawa – seperti di Candi Prambanan atau Candi Borobudur, mudah untuk mengasumsikan bahwa batik telah ada di Indonesia sejak zaman purba. Namun, tidak ada bukti atau temuan yang meyakinkan yang mengatakan bahwa desain bermotif pada batu itu benar-benar batik.

Kebanyakan ahli percaya bahwa batik Jawa Indonesia adalah salah satu desain paling rumit yang pernah diciptakan. Berdasarkan data dan temuannya, jenis desain batik ini mungkin ada setelah terciptanya kain tenun halus, yang harus diimpor dari India sekitar tahun 1800an. Adalah logis bahwa setelah kain yang sama juga diimpor dari Eropa sekitar tahun 1815, penciptaan desain rumit semacam itu bisa dimulai.

Beberapa orang percaya bahwa batik merupakan bagian dari kehidupan bangsawan Jawa karena beberapa pola diciptakan hanya untuk dipakai oleh bangsawan. Ada kemungkinan juga bahwa kehidupan kerajaan mengilhami terciptanya desain dan pola. Karena keluarga bangsawan juga diakui sebagai patron kesenian tradisional, perkembangan dan penciptaan banyak desain dan pola batik berhasil berkembang. Tak hanya keluarga bangsawan ini yang melindungi batik, mereka juga melindungi wayang kulit – atau wayang kulit. Boneka kulit itu sering dilukis dengan berbagai desain untuk menciptakan ilusi bagus tentang pakaian, jadi rakyat biasa atau rakyat dulu dulu membeli wayang untuk meniru pola pakaiannya.