Press "Enter" to skip to content

Micronutrients

Antioksidan, Vitamin & Mineral untuk Kesuburan

Vitamin D: Vitamin D diperlukan untuk membantu tubuh menciptakan hormon seks yang pada gilirannya mempengaruhi ovulasi dan keseimbangan hormon. Yale University School of Medicine melakukan penelitian terhadap 67 wanita tidak subur, di mana ditemukan bahwa hanya 7% yang memiliki kadar vitamin D normal.

Sumber makanan: Telur, ikan berlemak, susu, dan minyak ikan cod. Anda juga bisa mendapatkan vitamin D dari duduk di bawah sinar matahari selama 15 sampai 20 menit per hari, namun penyerapan terkena dampak kegelapan kulit Anda.

Vitamin E: Vitamin E telah ditunjukkan dalam penelitian untuk meningkatkan kesehatan sperma dan motilitas pada pria. Studi juga menunjukkan kekurangan diet pada Vitamin E menjadi penyebab infertilitas pada tikus. Arti nama untuk vitamin E ‘Tokoferol’ secara harfiah berarti melahirkan muda. Vitamin E juga merupakan antioksidan penting untuk membantu melindungi integritas DNA sperma dan telur.

Sumber makanan: Biji bunga matahari, kacang almond, buah zaitun, bayam, pepaya, sayuran berdaun gelap.

CoQ10: Diperlukan untuk setiap sel dalam tubuh untuk produksi energi, CoQ10 juga telah ditunjukkan dalam penelitian untuk meningkatkan kesehatan ovum (telur) dan kesehatan sperma. Hal ini diperlukan untuk motilitas sperma dalam air mani. Ini juga merupakan antioksidan penting yang membantu melindungi sel dari kerusakan akibat radikal bebas; melindungi DNA

Sumber makanan: Ditemukan di makanan laut dan daging organ, meski sangat sulit didapat melalui makanan. Suplementasi Ubiquinol CoQ10 adalah cara terbaik untuk mendapatkan CoQ10. Jumlah dalam tubuh menurun seiring bertambahnya usia.

Organic foods are good for fertility

Ubat kuat lelaki

Vitamin C: Vitamin C meningkatkan kadar hormon dan meningkatkan kesuburan pada wanita dengan defek fase luteal, menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Fertility and Sterility. Sedangkan untuk pria, vitamin C telah terbukti memperbaiki kualitas sperma dan melindungi sperma dari kerusakan DNA; membantu mengurangi kemungkinan terjadinya keguguran dan masalah kromosom. Vitamin C juga tampaknya menjaga agar sperma tidak menggumpal bersamaan, membuat mereka lebih motil.

Sumber makanan: Berlimpah pada tanaman dan buah-buahan termasuk paprika merah, brokoli, cranberry, kol, kentang, tomat, dan buah sitrus.

Lipoic Acid: Asam lipoat adalah antioksidan yang sangat penting karena tidak hanya membantu melindungi organ reproduksi wanita dan telah terbukti dapat meningkatkan kualitas dan motilitas sperma, namun juga membantu tubuh untuk terus menggunakan kembali antioksidan dalam tubuh.

Sumber makanan: Dalam jumlah kecil ditemukan pada kentang, bayam dan daging merah.

B6: Vitamin B6 bisa digunakan sebagai pengatur hormon. Ini juga membantu mengatur gula darah, mengurangi PMS, dan mungkin berguna untuk menghilangkan gejala morning sickness. B6 juga telah terbukti membantu dengan Luteal Phase Defect.

Sumber makanan: Tuna, pisang, kalkun, hati, salmon, cod, bayam, paprika, dan lobak hijau, sayuran collard, bawang putih, kembang kol, sawi, seledri, kol, asparagus, brokoli, kangkung, kubis Brussel, chard.

B12: Vitamin B12 telah terbukti dapat meningkatkan kualitas dan produksi sperma. Ini juga dapat membantu meningkatkan lapisan endometrium dalam pemupukan telur, mengurangi kemungkinan keguguran. Beberapa penelitian menemukan bahwa defisiensi B12 dapat meningkatkan kemungkinan ovulasi tidak teratur, dan pada kasus yang parah menghentikan ovulasi sama sekali.

Sumber makanan: Kerang, tiram, kerang, hati, kaviar (telur ikan), ikan, kepiting, lobster, daging sapi, domba, keju, telur.

Asam Folat / Folat: Mungkin salah satu vitamin yang paling dikenal yang diperlukan untuk kehamilan adalah asam folat, bentuk suplemen umum folat alami, yang banyak terdapat pada makanan. Vitamin ini membantu mencegah cacat tabung saraf serta cacat jantung bawaan, bibir sumbing, cacat anggota tubuh, dan anomali saluran kemih dalam mengembangkan janin. Kekurangan asam folat dapat meningkatkan risiko persalinan prematur, retardasi pertumbuhan janin dan berat lahir rendah. Kekurangan juga dapat meningkatkan kadar homocysteine ​​dalam darah, yang dapat menyebabkan aborsi spontan dan komplikasi kehamilan, seperti abrupsio plasenta dan preeklampsia.