Press "Enter" to skip to content

Memaknai Puasa Melalui Filosofi Pohon Jati

Memaknai Puasa Melalui Filosofi Pohon Jati

Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat, setelah melewati bulan demi bulan saat ini kita bertemu lagi dengan Ramadhan 1434 H. Bagi umat muslim kembali bersiap menjalankan ibadah puasa Ramadhan selama satu bulan penuh, menempa fisik dan bathin guna menggapai ridho dan pahala dari Allah SWT. Supaya lebih puasanya lebih bermakna, ada baiknya kita belajar filosofi puasa dari pohon jati.Kita semua pasti mengetahui dan mengenal pohon jati, sebagai salah satu pohon dengan kualitas kayunya yang tidak usah diragukan lagi. Pohon jati termasuk salah satu pohon yang kayunya memiliki nilai ekonomis dan berharga tinggi Jual Bibit Jati.

Salah satu proses yang selalu dialami oleh pohon jati setiap tahunnya adalah proses menggugurkan daun pada musim kemarau, sebagai bentuk salah satu cara penyesuaian diri dengan lingkungan dan kondisi sekitarnya. Ketika musim kemarau pohon jati menggugurkan hampir seluruh daunnya, sehingga kalau kita perhatikan pada musim kemarau hampir tidak ada daunnya yang melekat di dahan ataupun ranting pohon jati tersebut.Lantas bagaimana caranya pohon jati bertahan hidup tanpa daun, padahal seperti kita ketahui kalau daun berperan penting bagi tumbuhan untuk melakukan proses penyerapan sinar matahari dan melepaskan uap air …???

Itulah hikmah yang Tuhan berikan melalui pohon jati. Meski tanpa daun, pohon jati justru sedang menempa dirinya menjadi salah satu pohon terbaik di bumi ini. Dia takkan mati. Ia bahkan sedang ”berpuasa” untuk tidak berkembang secara kasat mata. Ia sedang menempa dirinya untuk sanggup bertahan dengan ujian kekurangan air dan panasnya cuaca. Ia melewati ujian itu sambil mengugurkan masalah yang ada di daun dan memperbaiki kulitas kayu di batangnya.

Sama halnya dengan tubuh kita. Pada saatnya kita harus mengistirahatkan anggota badan kita seperti perut untuk mengurangi kerjanya. Itu sangat diperlukan agar bagian lain dari diri kita berfungsi lebih optimal. Misalnya, saat perut beristirahat mengolah makanan, bagian tubuh lain khususnya pikiran dan jiwa kita bisa lebih optimal bekerja. Bukankah perut kita adalah salah satu sumber munculnya penyakit,” papar sang guru menjelaskan kearifan alam yang diamatinya.

Daun-daun pada pohon jati ini bisa kita andaikan sebagai dosa-dosa kita. Saat kita mau berkorban untuk menahan diri dan bertahan dari ujian, Tuhan akan memberi kita karunia-Nya berupa bergugurannya dosa-dosa kita. Pada saat dosa-dosa itu berlepasan dalam diri kita, maka hidup ini jadi lebih tenang dan bahagia. Bahagia itulah kualitas tertinggi yang diraih manusia dan sekaligus karunia dari-Nya.